JANJI
DEMOKRASI LIBERAL
oleh : M. Yudhie Haryono
“Apalah gunanya janji politik,
bila ia tak pernah terjadi di alam nyata?” kata sebuah iklan di salah satu surat kabar nasional.
Iklan ini mengomentari iklan-iklan politik yang ditebar oleh partai penyokong
pemerintah. Cibiran ini sederhana tetapi sangat mengena. Sebab, yang kita
butuhkan memang bukan sekedar iklan, tetapi pelaksanaan dari isi iklan
tersebut. Singkatnya, rakyat banyak butuh bukan janji, tetapi bukti. Bukan
sekedar kalimat ”kami akan,” tetapi juga ”kami telah dan akan terus.”
Jika mencermati iklan politik di
zaman demokrasi liberal, kita seakan-akan melihat bahwa mereka [yang beriklan]
lebih utama dari bekerja. Mereka yang belum bekerja, seakan-akan sudah bekerja.
Mereka yang tak punya visi, seakan-akan punya gagasan besar yang dapat
diimplementasikan. Mereka yang berwajah bopeng dan tak sempurna, akan terlihat
smart dan menggiurkan bila dilihat dari iklannya. Sebab, fungsi vital iklan
[politik] adalah membesarkan apa yang menjadi kelebihannya sekaligus menutup
apa yang menjadi kelemahannya. Singkatnya, iklan politik adalah ”berbohong demi
[kebaikan] cita-citanya.
Demokrasi liberal memang
menghasilkan imaji dan harapan yang luar biasa bagi pemeluknya. Semua kaum
demokrat yang beriman pada demokrasi liberal akan mengalami candu kebebasan
hidup. Padahal, romantisme kebebasan dapat mengakibatkan kebiasaan berfantasi
yang akan menjadikannnya ”tidak mampu” untuk menyesuaikan diri dalam kehidupan
nyata, kehidupan yang sesungguhnya. Sebab, hidup yang nyata adalah kehidupan
untuk siap kalah dan menerima kekalahan.
Padahal, salah satu efek samping dari mereka yang beriman pada demokrasi liberal adalah selalu merasa akan menang, sehingga sulit menerima kekalahan. Banyak orang beriman pada demokrasi liberal ketika kalah mengalami tekanan dan stress karena tak kuasa menerima kekalahan. Tak sedikit yang sakit jiwa bahkan meninggal dunia.
Dalam sejarahnya, di mana orang banyak berdemokrasi liberal dengan akal pikirannya, disana
kekalahan sangat dekat dengan kemenangan. Jumlah keduanya sama walau tak
serupa. Di setiap kemenangan, ada kekalahan. Dan, di setiap momen kekalahan,
ada yang menang. Tidak ada demokrasi liberal yang menjamin kemenangan bersama
atau kekalahan bersama.
Padahal, salah satu efek samping dari mereka yang beriman pada demokrasi liberal adalah selalu merasa akan menang, sehingga sulit menerima kekalahan. Banyak orang beriman pada demokrasi liberal ketika kalah mengalami tekanan dan stress karena tak kuasa menerima kekalahan. Tak sedikit yang sakit jiwa bahkan meninggal dunia.
Dalam sejarahnya, di mana orang banyak berdemokrasi liberal dengan akal pikirannya, di
Pemilu Anak Kandung Demokrasi Setiap kita
memilih maka pastilah dihadapkan pada pekerjaan-pekerjaan lanjutan dari pilihan
tersebut. Setelah memilih demokrasi liberal, pemilu adalah pekerjaan
berikutnya. Anehnya, pemilu dianggap baru setiap ia datang. Mungkin karena di Indonesia
selalu dengan partai baru, wajah baru, aturan baru, dana baru dan strategi
baru. Akhirnya, ia dianggap sebagai kekuatan yang hidup dan menghidupi
kehidupan suatu bangsa. Ia ditempatkan sebagai sumber kebenaran politik yang
selalu segar dan menyegarkan. Ia dilakukan seakan-akan segera mendapat “kesuksesan.”
Dan, dibaca seakan-akan mudah dilaksanakan. Lalu, dirayakan seakan-akan tanpa
memerlukan cukup kapital, waktu dan tenaga borongan.
Padahal, pemilu adalah puisi
minus. Bahkan seperti sains plus. Ia datang bagai jampi-jampi meta waktu, meta
tempat dan meta pengetahuan. Ia disetarakan sebagai ide yang menakjubkan
sekaligus pesta yang mengherankan. Ia dipeluk oleh berjuta orang, dijadikan
diagnosa sekaligus panacea problema kemanusiaan.
Karena itu, dalam negara yang
belum dewasa seperti kita, pemilu adalah hal luar biasa. Ia datang dan pergi
berulangkali, juga hidup dan mati berkali-kali. Yang mengherankan, pemilu yang
kita alami seringkali tidak melahirkan kebaruan yang berakal sehat sehingga
menghasilkan tindakan sehat.
Jika melihat pemilu-pemilu yang
sudah kita laksanakan maka kesimpulannya sederhana. Kita lupa belajar. Sebab,
bukannya belajar dari pemilu yang lama, kita seakan-akan menikmatinya sebagai
bagian dari takdir Tuhan yang tak perlu dicegah. Seperti mati, lahir dan jodoh.
Padahal, takdir menjalani pemilu kemudian berulang lewat pangkal yang mirip
sama; ekonomi-politik yang tak berpihak pada rakyat miskin. Itu artinya, jika
negara lain hanya membutuhkan setahun sampai lima tahun untuk mempelajari dan
mempraktekannya, kita tidak punya tengat waktu yang jelas kapan mau diakhiri
pesan dasar dari pemilu liberal ini.
Karena itulah, membaca pemilu
dalam demokrasi liberal yang kita alami dari waktu ke waktu seperti mengeja
perubahan tanpa rencana. Walau kita menyepakati pergantian rezim dengan pemilu
yang boros dan tidak efesien, tetapi rezim yang baru sering mengulang kembali
dengan memperpanjang ketidakbecusan rezim yang digantinya. Mereka yang belum
menang dan berkuasa selalu terlihat lebih bagus dalam tampilan dan iklannya.
Tetapi, begitu mereka menang dan berkuasa; mereka sama walau tak serupa. Sama
dalam hal praktek dan perilaku penguasa. Tak serupa yang menikmati gelimang
kekuasaannya. Sama programnya, tak serupa subyeknya. Yang membedakan hanya
orangnya. Pikiran, motif dan tindakannya sama persis bahkan kadang-kadang lebih
buruk.
Di sinilah dibutuhkan kesadaran kolektif agar pemilu tidak menghasilkan perulangan rezim sehingga melahirkan ketidakpercayaan masal yang memproduksi golput pemilu. Sebaliknya, setiap pemilu seharusnya menghasilkan pergantian yang membuahkan kepastian demi terjaminnya kesejahteraan orang banyak. Pergantian subtansi, pergantian untuk pencapaian cita-cita bersama.
Di sinilah dibutuhkan kesadaran kolektif agar pemilu tidak menghasilkan perulangan rezim sehingga melahirkan ketidakpercayaan masal yang memproduksi golput pemilu. Sebaliknya, setiap pemilu seharusnya menghasilkan pergantian yang membuahkan kepastian demi terjaminnya kesejahteraan orang banyak. Pergantian subtansi, pergantian untuk pencapaian cita-cita bersama.
Sebab, sebuah pergantian, tidak
cukup ditunggu secara alami. Pergantian meniscayakan aktor, strategi, jaringan,
organisasi dan pengkondisian. Dalam konteks Indonesia peran pergantian itu
sering dilakukan oleh kaum muda yang berkolaborasi dengan kekuatan-kekuatan
rakyat diam. Konfigurasi kaum muda, masyarakat diam, pemimpin informal dan
tokoh moralis yang bekerja di belakang layar adalah “subyek utama” bergantinya
sebuah elit politik. Merekalah yang seharusnya berbeda secara subyek dan
berbeda dalam pikiran, visi dan perbuatan.
Dan, agar pergantian
menghasilkan sesuatu yang berbeda dan idealis, kita tidak boleh lupa. Melainkan
harus selalu ingat akan kesalahan elit politisi masa lalu, serta berbagai
peninggalan kesalahan dan kealpaan rezim sebelumnya agar mampu melahirkan
rezim sejahtera yang demokratis. Kita harus selalu belajar mengingat apa yang
“kurang” sambil menyempurnakan yang sudah berlangsung agar tidak jatuh
berkali-kali pada lubang yang sama.
Karena itu mesti, rezim baru hasil pemilu demokrasi liberal seharusnya adalah sebuah rezim yang menekankan adanya konsensus sosial (social consensus) yang menyediakan jaminan bagi pembudayaan masyarakat politik (political society) dan distribusi keadilan secara merata (distributive justice) antara pemerintah dan rakyat serta mempraktekkan masyarakat sejahtera (welfare society). Sebuah rezim yang mempertemukan kebebasan subyektif (subjektive liberty) dan kebebasan obyektif (objective liberty) sehingga melahirkan public sphere bagi perdebatan-perdebatan rasional agar capaian cita-citanya dapat diaudit serta dipertanggungjawabkan.
Karena itu mesti, rezim baru hasil pemilu demokrasi liberal seharusnya adalah sebuah rezim yang menekankan adanya konsensus sosial (social consensus) yang menyediakan jaminan bagi pembudayaan masyarakat politik (political society) dan distribusi keadilan secara merata (distributive justice) antara pemerintah dan rakyat serta mempraktekkan masyarakat sejahtera (welfare society). Sebuah rezim yang mempertemukan kebebasan subyektif (subjektive liberty) dan kebebasan obyektif (objective liberty) sehingga melahirkan public sphere bagi perdebatan-perdebatan rasional agar capaian cita-citanya dapat diaudit serta dipertanggungjawabkan.
Di sini tugas utama rezim hasil
pemilu demokrasi liberal sebenarnya adalah fokus mengayomi seluruh entitas
secara adil, menciptakan masyarakat sejahtera, menegakan hukum dan menjadi
negara yang dicita-citakan oleh banyak orang seperti juga cita-cita para
pendiri bangsa. Sebuah rezim yang bukan sekedar mampu menampilkan welfare state
(aktor dan elite penguasa kaya) tetapi juga mampu melahirkan welfare society
(masyarakat yang sejahtera) sambil mendorong keberlangsungan welfare religion
(agama yang menyejahterakan umatnya).
Jika gagasan di atas tidak
menjadi agenda yang dapat direalisasikan bersama oleh mereka yang beriman pada
demokrasi liberal, inilah saatnya mengatakan tidak pada mereka. Kini saatnya
kita mengevaluasi dan memperbaiki segalanya. Kini saatnya kita menagih janji
demokrasi liberal pada aktor-aktornya agar konsekwen dan realistis dengan
janji-janji mereka.

Comments
Post a Comment